Selasa, 30 September 2014

KURIKULUM






1.Program 3 Tahun Pesantren Nidaa Al-Haar

Tahun Pertama :

•Matrikulasi Al-Qur’an, Bacaan dan Hafalan : 60%
•Matrikulasi Bahasa Arab, Inggris, Sains : 20%
•Kajian Literatur Ke-Islaman( Tafsir, Hadits, Fiqh dan Dakwah ) : 15%
•Tarbiyyah dan Syakhsiyyah Islamiyyah : 5%

Tahun Kedua :

•Pendalaman Bahasa Arab, Inggris dan Praktek : 40%
•Muraja’ah : 20%
•Matrikulasi Al-Qur’an, Pemahaman, dan Tafsir : 40%

 Tahun Ketiga :

•Pendalaman Mata Pelajaran dan Program Sukses UN : 40%
•Muraja’ah : 25%
•Kajian Literatur Ke-Islaman( Tafsir, Hadits, Fiqh dan dakwah ) : 15%
•Matrikulasi Bahasa Arab, Inggris, Sains : 15%
•Pengabdian Masyarakat : 10%

2.Isi Program Pengajaran

Program kegiatan belajar mengajar di SMPIT Nidaa As-Sunnah disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa yang menginjak usia akil baliqh.
Materi yang diajarkan :

A.Materi tsaqafah Islamiyah

Tarbiyah dan syaksiyah Islamiyah
Pemikiran Islam
Dakwah Islam
Akhlaq Islam
Al-Qur’an wa Tafsiruhu
Al-Hadits wa Musthalahuhu
Al-Fiqh wa Ushuluha
Al’Arabiyah wa Qawa’iduha
Sirah nabawiyah dan shahabat
Tahfidz Qur’an dan hadits

B.Materi kehidupan

Bahasa (Inggris, Arab dan Indonesia)
MatemaTika
Sains (fisika, kimia, biologi)
IPS (geografi dan ekonomi)
Managemen (organisasi, dakwah dan masyarakat)

C. Lama Pendidikan

Lama pendidikan di SMPIT , berlangsung selama 3 tahun, dengan rincian :

a.Satu tahun terdiri dari 2 semester (42 minggu)
b.Satu semester berlangsung selama  :

-Semester 1  22 minggu
-Semester 2  20 minggu

c.Satu minggu terdiri dari 6 hari belajar, Ahad libur
d.Satu jam pelajaran terdiri dari 40 menit.

Landasan dan Tujuan (Strategi Induk) Pesantren Nidaa Al-Haar


1.Visi

Mewujudkan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu sebagai lembaga pendidikan Islam yang bermutu tinggi dalam konsentrasi di bidang tahfidz dan bahasa Arab.

2.Misi

Menyelenggarakan pendidikan menengah berlandaskan Islam secara terpadu dalam budaya sekolah yang penuh nuansa ruhiyah didukung oleh peran serta orang tua dan masyarakat untuk membentuk siswa yang berkepribadian Islami dalam rangka menjadi kader ulama masa depan.

3.Tujuan

a. Melahirkan siswa yang berkepribadian Islami serta menguasai bekal untuk menjadi ulama masa depan.
b. Mewujudkan sebuah institusi pendidikan menengah Islam yang mengintegrasikan aspek pembentukan    kepribadian Islam, penguasaan tsaqafah Islam, dan pembentukan ulama masa depan dengan cara    mengintegrasikan pendidikan di sekolah, pesantren, dan mesjid, serta peran sekolah, keluarga, dan    masyarakat dalam suasana budaya pendidikan yang Islami.
c. Menggalang peran serta masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan tersebut.

4.Profile lulusan

a. Hafal dan Memahami Al-Qur’an 30- Juz
b. Bisa berbahasa Arab dan Inggris aktif maupun pasif
c. Menguasai Taqofah Islamiyyah
d. Tafaqquh Fiid Dien dalam Penguasaan Fiqhiyyah dan Ushuliyyah
e. Mampu melakukan pengabdian Dakwah di Masyarakat
f. Cikal Bakal Kader Ulama Masa Depan.

Aspek-aspek pendidikan


Aspek-aspek yang akan dikembangkan sepenuhnya mengacu kepada tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu :

1.Pembentukan berkepribadian Islam
2.Penguasaan tsaqafah Islam
3.Pembentukan calon ulama masa depan

Aspek pertama adalah pembentukan kepribadian Islam.  Aspek ini merupakan hasil dari pengajaran tsaqafah Islam  dan pengkaderan calon ulama.  Artinya pengajaran tsaqafah Islaam dan pengkaderan calon ulama semuanya diarahkan secara langsung atau tidak dalam rangka membantu pembentukan kepribadian Islam siswa.

Siswa dihantarkan untuk dapat memahami dan mengimani seluruh perkara aqidah Islam, juga perihal hokum-hukum Islam terutama yang berkaitan dengan ibadah fardiyah, halal haramnya makanan dan minuman, pakaian dan akhlaq.  Dengan sistem pesantren, siswa juga diarahkan untuk pembiasaan untuk selalu melakukan ibadah, selalu mengkonsumsi makanan halal, selalu menutup aurat dan bergaul dengan akhlaqul kariimah, giat belajar, bertanggungjawab serta berjiwa mandiri, aktif dan kreatif.

Aspek kedua adalah penguasaan tsaqafah Islam disesuaikan dengan fase perkembangan anak, dimana daya intelektualitasnya semakin bertambah, maka kegiatan belajar mengajar di sekolah menengah disusun sedemikian rupa agar secara bertahap siswa dihantarkan untuk menguasai tsaqafah Islam, memahami hukum-hukum Islam, khususnya yang berkaitan dengan ibadah fardiyah (shalat, shaum ramadhan, zakat, sadaqah dan lain-lain), halal haram makanan dan minuman, pakaian, akhlaq, muamalah (ekonomi, social, pemerintahan) dan uqubat serta sirah Rasul dan shahabat.  Siswa diarahkan untuk menghafal Al Qur’an 30 juz dalam waktu 3 tahun dan mampu bermuhadasah dengan bahasa secara aktif dan pasif.

Aspek ketiga, pembentukan calon ulama masa depan, program belajar mengajar disusun sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai aspek-aspek yang dibutuhkan untuk menjadi ulama masa depan terutama dalam managemen organisasi, dakwah dan pengabdian masyarakat.

Latar Belakang

Membaca realitas sekarang ini maka kita semua mafhum, bahwa dunia saat ini sedang dicengkram oleh kebudayaan barat yang notabene tidak Islami.  Kita sebagai orang tua yang memiliki anak-anak sebagai generasi masa depan sangat prihatin terhadap hal ini, dimana hampir  99% masyarakat kita (tua dan muda termasuk anak-anak) memakai budaya non Islam yang meliputi sekulerisme, kapitalisme, liberalism, hedonisme, konsumerisme, narsisme, budaya mengekor dll.   Mereka tidak memiliki konsep hidup yang jelas, sebagaimana syariat telah  menjelaskannya.  Mereka juga tidak memiliki kepedulian terhadap sesama muslim.  Mereka seperti buih di lautan yang mudah terombang ambing oleh ganasnya ombak kebudayaan non Islam.

Semangat untuk melahirkan generasi para sahabat dan ulama salaf, yang memahami Al Qur’an, As Sunnah, bahasa Arab dan tsaqafah Islam yang sangat kuat, dan prilaku mereka yang zuhud terhadap dunia,  hal ini tercermin dalam kehidupan mereka yang sangat indah dan telah tertulis dalam tinta emas sejarah Islam yang tidak akan pernah pudar selamanya,  maka kami berkeinginan untuk mewujudkannya dalam kehidupan saat ini.  Hal ini juga ditegaskan oleh sabda Rasulullah saw, bahwa :

“ Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalannya, kecuali 3 perkara yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh dan shalehah yan senantiasa mendoakan keduaorangtuanya”

Juga Sabda Rasulullah SAW:
Artinya: “Orang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannysa”. [HR. Bukhari dari Utsman bin Affan ra]

Atas dasar inilah kami berusaha mewujudkannya dalam sebuah lembaga pendidikan yang kami beri nama “ SMPIT NIDAA AS-SUNNAH”.

Donasikan harta anda melalui kami


Bagi anda kaum muslimin yang peduli dengan Ummat Islam yang lainnya, yang mereka memang dari orang-orang yang dhuafa dan yatim piatu, bisa menyalurkan bantuannya melalui kami di rekening

BNI SYARIAH
0290170830
A.N. DEDI WAHYUDI


Terima kasih, semoga amal Ibadah anda sekalian diterima oleh Allah dan pahalanya mengalir hingga kiamat nanti.

Sebuah Visi Menyongsong Masa Depan


"Sesungguhnya Allah membangkitkan untuk Ummat ini pada setiap awal 100 tahun orang yang memperbaharui (Mujaddid) untuk mereka agama mereka" (HR. Abu Dawud)


Diakui atau tidak saat ini kita menghadapi persoalan mendasar yaitu adanya degradasi akhlak dan moral hampir dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, ini semua karena sistem yang berlaku di masyarakat cenderung sekuler kapitalistik bukan sistem yang berdasar Ridha Allah SWT. Haruskah kita biarkan generasi Islam larut dalam model pendidikan masyarakat seperti ini?

Untuk merubah semua ini kita memerlukan sebuah generasi yang tangguh, berfikir lurus dan bersahaja. Generasi yang hanya bisa tercipta melalui pembinaan yang intensif dengan pola pengkaderan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.


VISI

PESANTREN TERDEPAN DAN TERPADU DALAM MENCETAK KADER ULAMA

MISI

Mencetak Ulama pilihan dan terpercaya sebagai pewaris Rasulullah SAW
Mencetak para Hafidz Al-Qur'an
Mencetak peserta didik yang bisa berkomunikasi dengan Bahasa Arab dengan baik.


Profil Pesantren Nidaa As-Sunnah






Pesantren Nidaa Al-Haar didirikan pada tahun 2005, merupakan pusat pendidikan Al-Qur’an dan Bahasa Arab yang terpadu. Pesantren Nidaa Al-Haar terdaftar di akta notaris : Astuti Wahyudiah SH. No. 1/06 April 2005.

Dengan visi “Pesantren Terdepan dan Terpadu dalam Mencetak Kader Ulama”.Pesantren Nidaa Al-Haar. berusaha mensosialisasikan konsep pendidikan Islam di tengah-tengah masyarakat, kemudian menerapkan konsep tersebut dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Membangun kecerdasan akal dan kesadaran untuk taat kepada Allah SWT.

Metode pendidikan yang diterapkan dalam Pesantren Nidaa Al-Haar adalah metode pendidikan salafus shalih dipadukan dengan metode pendidikan Islam modern yang dapat membangun kepribadian anak secara Islami. Hingga pada akhirnya tercetaklah cikal bakal ulama masa depan.
Struktur Kepengurusan

Dewan Pembina         : Ust. Miqdad Ali Azka Lc.

Dewan Pengawas       : Ust. H. Jaenudin M.Si

Dewan Pakar             :  1. Dr. Restu Samsul Hadi
                                  :  2. Arif Gunawan MA. Hum

Ketua Yayasan           : Supringgono

Sekretaris                   : Decky Krisna

Bendahara                  : Jumari

Bendahara harian        : Dedi Wahyudi



Tenaga pengajar utama :

1. Tahfidzul Qur’an

   M. Nur Efendi (Al Hafidz)

   Daruquthni (Al Hafidz)
   Abdul Muhyi (Pemegang Syahadah Qira’ati)

2. Bahasa Arab

   Miqdad Ali Azka Lc. (Penghafal 1000+ Bait Nadham Alfiyyah Ibnu Malik)
   Tatang Suryaman S.Pd.I (Coumlode Ma’had Utsman bin Affan Jakarta)

3. Bahasa Inggris

·  Nafi Gunawan S.Pd (Pakar Bahasa Internasional)

4. Sains Islam

   Ummu Sa'adah S.Pd (Pakar Sains Islam)

PEMBANGUNAN MASJID PESANTREN NIDAA AL-HAAR

 Hingga kini Pesantren Nidaa Al-Haar sedang membangun Masjid dan aula serbaguna untuk kepentingan kenyamanan belajar para santri.
 Kami membuka peluang sebesar-besarnya kepada kaum muslimin semuanya untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan sarana dan prasarana di Pesantren Nidaa Al-Haar ini.
 Untuk sementara pembangunan Masjid Pesantren Nidaa Al-Haar memang belum maksimal akan tetapi terus berjalan menyesuaikan dana yang terkumpul.
Donasi untuk pembangunan Sarana dan Prasarana pendidikan Santri bisa dilihat di kolom Donasi

Selasa, 16 September 2014

PERANG YAMAMAH





Perang Yamamah merupakan peperangan yang penting yang terjadi setelah Rasulullah SAW. wafat. Karena pada saat itu ummat Islam banyak yang murtad. Menurut Khalifah bin Khayyat, Muhammad Ibnu Jarir, dan sebagian ulama salaf berkata, “Peristiwa peperangan Yamamah terjadi pada tahun 11 H, Ibnu Qani’ berkata “Peperangan ini terjadi di penghujung tahun ini”.

Al-Waqidi dan lain-lain berkata, “Peperangan ini terjadi pada tahun 12 H.” Cara menggabungkan dua riwayat ini, bahwa peperangan dimulai pada tahun 11 H dan baru selesai pada tahun 12 H.

Setelah Rasulullah SAW wafat, terjadilah pemurtadan besar-besaran dari kaum muslimin terutama dipelopori oleh Musailamah al-Kadzab dari Bani Hanifah. Oleh karena itulah Khalifah Abu Bakar

Ash-Shiddiq ra. mengutus Khalid Ibn Walid ra. menuju Yamamah untuk memerangi mereka. Akhirnya terjadilah peperangan di bumi Yamamah yang dinamakan perang Yamamah.

Peperangan terjadi begitu dahsyat hingga jumlah korban terbunuh peperangan dari pihak musuh sekitar 21.000 orang. Adapun jumlah kaum muslimin yang terbunuh sebanyak 600 orang, ada yang mengatakan 500 orang, wallahu a’lam. Diantara yang terbunuh banyak terdapat sahabat Nabi yang senior, dan mereka merupakan penghafal Al-Qur’an.

Pada saat itu, sahabat Nabi yang mati syahid adalah, Abu Hudzaifah bin ‘Utbah, Salim bekas budak Hudzaifah, Syuja’ bin Wahb, Zaid bin Al-Khaththab, Abdullah bin Sahl, Malik bin Amr, Ath-Thufail bn Amr ad-Dawsi, Yazid Bin Qais, Amir bn Al-Bakir, Abdullah bn Makhramah, Saib bn Utsman bn Mazh’un, Abbad bin Basyar, Ma’nu bin Adi, Tsabit bin Qais bin Syamas, Abu Dujanah Samak Bin Harb dan beberapa shabat lain yang jumlahnya tujuh puluh. Mereka semua adalah para sahabat Nabi yang hafal Al-Qur’an.

Mendengar banyaknya para sahabat Nabi penghafal Al-Qur’an yang syahid dalam peperangan Yamamah, Umar bin Kaththab ra. khawatir Al-qur’an akan punah dan tidak akan terjaga, kemudian Umar ra. mengusulkan pada Abu Bakar ra. yang saat itu menjadi khalifah untuk membukukan Al-Qur’an yang masih berserakan kedalam satu mushaf.

Kekhawatiran Umar bin Khaththab ra. atas syahidnya para penghafal Al-Qur’an dalam perang Yamamah tentu bukanlah kekhawatiran yang biasa-biasa saja, karena ini adalah menyangkut hal yang sangat besar yakni terjaganya Al-Qur’an sebagai wahyu yang berasal dari Allah SWT. sehingga dengan kejadian itu disepakatilah pembukuan Al-Qur’an yang hingga kini kita bisa membacanya dengan mudah.

Tujuh puluh sahabat yang gugur di perang Yamamah tentu adalah golongan sahabat yang terbaik yang pernah dimiliki oleh Ummat Islam pada masa itu. oleh karenanya sangat wajar jika Ummat islam merasa begitu kehilangan sosok para penghafal Al-Qur’an seperti mereka.

Belakangan ini kualitas ummat Islam semakin hari semakin menurun. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa fakta yang kita temui dimasyarakat sekitar kita, dimana dalam mengatur kehidupan sehari-hari mereka sangat jauh sekali dari ajaran Al-Qur’an. Al-Qur’an seolah tidak membekas sama sekali dalam kehidupan masyarakat saat ini karena tidak pernah diterapkan.

Jika kita lihat keadaan saat ini bisa dibilang lebih parah dari kondisi di masa Perang Yamamah. Dimana sekarang ini orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan Al-Qur’an apalagi menghafal Al-Qur’an. Mereka kebanyakan sudah mati dahulu sebelum perang terjadi. Akibatnya kekhawatiran Umar bin Khaththab ra. pasca Perang Yamamah nyaris terjadi pada masa kini, yakni Al-Qur’an hampir punah dan tidak terjaga.

Oleh karena itu marilah kita berfikir dan merasakan apa yang dirasakan oleh Umar bin Khaththab ra. dengan menjaga dan menghafal Al-Qur’an. Dengan menjadi Umar bin Khaththab masa kini berarti kita telah peduli dengan Al-Qur’an. Kita patut khawatir suatu saat nanti Al-Qur’an benar-benar punah dari kehidupan Ummat Islam. Maka dari itu marilah kita hidupkan kembali Syuhada Perang Yamamah yaitu dengan mencetak para Haf’idz Al-Qur’an.